Bangsa Indonesia , adalah bangsa besar yang terseok - seok bahkan hampir tenggelam oleh gaung si "kecil" Singapore,Malaysia,Qatar dan negara lainnya.

Kenapa,mengapa dan WHY ?????

Pertanyaan yang selalu terlontar di benak seluruh anak negri tercinta ini,tetapi karena kebaikan anak2 negri maka pertanyaan2 diatas selalu hanya disimpan di benak dan dihati mereka sendiri2.Walaupun mereka terimbas pahit getirnya hidup yang seharusnya tidak mereka derita , dengan ketabahan dan kebaikan hati (ciri asli anak bangsa Indonesia - selalu nrimo) mereka rela pergi meninggalkan negri demi mencari perbaikan diluar negri (walaupun tak semua berhasil sesuai dengan mimpi).

Tetapi sementara di dalam negri sendiri para pembesar negri berebut kursi,sodok sana sodok sini,olok sana olok sini demi sebuah kursi.Dengan membabi buta bahkan kadang sampai jual harga diri.(maksud saya jatidiri).

Ironisnya setelah menggapai kursi mereka lupa lagi dengan janji - janji mengabdi (inilah yang saya maksudkan jual harga diri hanya untuk sebuah kursi atau posisi).

Saya membayangkan kalau seluruh petinggi yang notabene bukanlah orang yang bodoh bersatu menggalang tenaga dengan mementingkan kepentingan bersama karena negara bukan hanya milik beberapa golongan seperti yang terjadi saat ini.
Maka negara ini akan menjadi negara yang besar dalam arti yang sebenarnya dan setelah besar maka mereka akan secara otomatis juga mengenyam hasil tetap lebih dahulu daripada rakyat jelata.
Tidak perlu korupsi tidak perlu rakus berebut posisi maka akan mendapat hasil tetap sesuai porsi.

Geli memang kadang2 mendengar petinggi negri tanpa ngaca pada diri mereka sendiri,ada bekas presiden pengin jadi presiden lagi,dan lucunya menjanjikan kemakmuran rakyat padahal waktu memimpin nggak bisa menunjukan kemakmuran rakyat.Pertanyaannya caranya bagaimana???? Mengapa dulu nggak bikin kemakmuran dan menunjukan kemampuannya???
Ada lagi bekas wakil presiden , sekarang pengin naik jadi presiden tetapi dengan klaim sana klaim sini , untuk merebut simpati .Tetapi karena hanya merasa kharismanya mampu merebut simpati ,bukan simpatik beneran maka ya masih nol jadinya,...

Rakyat sudah mulai jenuh dengan janji,dan yang terpenting rakyat mulai mengerti akan tata demokrasi maka sekarang ya yang memiliki kapabiliti yang mampu memimpin negri.

Padahal menurut saya , kalau kita bersatu dan menyamakan presepsi maka semua bisa di atasi.
Mengapa reformasi yang sdh berjalan puluhan tahun tidak berbekas adanya reformasi ?? itu karena tidak bertemunya presepsi,gontok-gontokan cari menang sendiri.

Saya bayangkan saya sendiri kalau tidak bisa bersatu dan menyamakan presepsi dengan istri dan anak2 saya sendiri , saya pikir tidak akan saya temui keharmonisan dan kenyamanan dalam sebuah kesatuan keluarga.Itu tadi contoh kecil , apalagi sebuah negara???

Bapak - bapak dan ibu - ibu pemimpin negri tolonglah sadar dan memahami kesulitan rakyat kecil.Mualailah dari sekarang berbenah dan merubah cara memimpin anda semua dengan hati nurani.Mulailah pikirkan kepentingan bersama dan bukan kepentingan pribadi.

Kemaren saya melihat berita di TV , bapak presiden dan istri mengantarkan menantu dan cucunya saja dengan pengawalan seperti tugas negara , padahal menurut saya sangatlah berlebihan jika hanya mengantarkan seorang menantu dan cucunya ( 2 orang) saja dengan pengawalan yang sangat luar biasa.
Sementara TKW di Arab Saudi kepanasan bahkan ada yang kelaparan dikolong jembatan saja tidak ada yang peduli, bagaimana ini ????

Di mata saya , pemerintahan Indonesia belum menuju keperpihakannya kepada rakyat kecil,mereka masih sibuk dengan "katanya" mengurus negri,..???
Kondisi rakyat kalau tidak mulai di benahi,maka masalah tetap akan menumpuk dan bertambah setiap hari.
Menurut saya mulailah benahi kondisi miskin ini dengan membangun ekonomi walaupun dengan memaksakan diri,bukalah lapangan pekerjaan,didiklah rakyat mandiri,dukunglah usaha kecil,mudahkan secara rasional birokrasi dan bantulah secara proporsional bukan dengan di jejeli bantuan yang nggak mendidik mandiri.

Berakit - rakit ke hulu dan berenang - renag ketepian , berkeringatlah lebih dahulu baru bersantai - santai kemudian.

Jangan bersantai - santai melulu , lalu merampok kemudian.

Salam anak negri.
(Maaf jika ada yang kurang berkenan saya hanya mengeluarkan uneg - uneg gundah dari hati)